Sekolah dan pondok punya banyak dokumentasi. Biasanya kita memotret acara besar, menyimpan foto juara, mengunggah kegiatan, lalu menulis berita ketika ada sesuatu yang dianggap penting. Itu perlu. Tetapi ada satu pertanyaan yang terus muncul: bagaimana dengan hal-hal yang tidak cukup besar untuk masuk berita, tetapi cukup berarti untuk diingat?
Bagaimana dengan foto seorang teman yang sedang menyiapkan dekorasi sebelum semua orang datang? Bagaimana dengan catatan kecil setelah kegiatan pertama? Bagaimana dengan ilustrasi yang dibuat karena bosan, lalu ternyata punya cerita? Bagaimana dengan pendapat yang belum tentu menjadi keputusan, tetapi layak untuk didengar?
OSBIK ingin memberi ruang untuk hal-hal semacam itu.
Bukan karena semuanya harus menjadi konten. Justru sebaliknya: karena tidak semua hal harus ramai untuk punya nilai.
Mendokumentasikan cerita bukan berarti memotret sebanyak-banyaknya. Dokumentasi yang baik membutuhkan pilihan. Kita harus bertanya: kenapa momen ini penting? Apa yang sebenarnya ingin diceritakan? Apakah foto ini hanya bagus, atau punya makna? Apakah tulisan ini sekadar panjang, atau membantu orang lain melihat sesuatu dengan cara baru?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat dokumentasi menjadi latihan untuk memperhatikan.
Ketika membawa kamera, kita mulai melihat cahaya, gestur, dan detail. Ketika menulis, kita mulai mendengar cara orang menjelaskan pengalaman. Ketika mengedit, kita belajar bahwa tidak semua hal perlu dimasukkan. Ketika menerbitkan karya orang lain, kita belajar bahwa memberikan kredit sama pentingnya dengan membuat konten itu sendiri.
Ada alasan lain yang lebih sederhana: waktu berjalan cepat.
Sesuatu yang hari ini terasa biasa mungkin beberapa tahun lagi justru menjadi bagian yang paling ingin kita lihat kembali. Koridor yang kita lewati setiap hari. Cara teman-teman tertawa saat bekerja. Papan pengumuman. Meja yang penuh kertas sebelum acara. Karya pertama yang masih jauh dari sempurna.
Kami tidak ingin OSBIK hanya menjadi tempat melihat apa yang sedang terjadi. Kami ingin ia pelan-pelan menjadi arsip tentang bagaimana santri berpikir, berkarya, mencoba, gagal, belajar, dan bertumbuh.
Karena itu, tulisan tidak harus selalu seperti berita. Foto tidak harus selalu tentang acara besar. Ilustrasi tidak harus memenangkan lomba. Opini tidak harus selalu mempunyai jawaban.
Yang kami cari adalah sesuatu yang jujur, punya alasan untuk dibagikan, dan membuat orang lain berhenti sebentar.
Kalau beberapa tahun lagi kita membuka kembali halaman-halaman ini dan menemukan wajah, ide, karya, serta cerita yang membuat kita berkata, “Oh iya, dulu kita pernah ada di fase itu,” berarti dokumentasi ini sudah melakukan pekerjaannya.




0 comments:
Post a Comment