Dari luar, menjadi panitia sering kelihatan menyenangkan. Ada rapat, ada desain, ada pembagian tugas, ada hari pelaksanaan, lalu ada foto bersama. Yang tidak terlalu terlihat justru bagian di tengahnya: pesan yang belum dibalas, perubahan mendadak, alat yang belum datang, teman yang lupa tugas, dan keputusan kecil yang harus dibuat ketika tidak semua orang setuju.
Buat banyak orang, pengalaman pertama menjadi panitia adalah salah satu momen ketika kata “tanggung jawab” mulai terasa lebih nyata. Bukan karena tiba-tiba kita menjadi paling dewasa, tetapi karena pekerjaan kita mulai memengaruhi pekerjaan orang lain.
Kalau kita terlambat mengirim desain, bagian publikasi ikut terlambat. Kalau kita lupa mencatat perubahan jadwal, orang lain bisa datang di waktu yang salah. Kalau kita hanya fokus pada tugas sendiri, ada kemungkinan masalah kecil di sebelah kita tidak pernah selesai.
Di situ kita belajar bahwa kerja tim bukan sekadar membagi pekerjaan menjadi beberapa nama. Kerja tim adalah kemampuan untuk memberi kabar, bertanya sebelum terlambat, berani mengaku kalau belum selesai, dan bersedia membantu ketika bagian kita sebenarnya sudah beres.
Kita juga belajar sesuatu yang jarang diajarkan lewat teori: ide bagus belum tentu bisa langsung dipakai. Kadang anggarannya tidak cukup. Kadang waktunya terlalu sempit. Kadang orang lain punya alasan yang masuk akal untuk tidak setuju. Dan menerima revisi ternyata tidak selalu mudah, apalagi ketika kita sudah merasa ide sendiri adalah yang paling bagus.
Di sinilah panitia menjadi latihan yang menarik. Kita tidak hanya belajar membuat acara. Kita belajar bernegosiasi dengan kenyataan.
Yang juga penting: kesalahan hampir pasti terjadi. Mungkin ada file yang salah versi. Ada barang yang tertinggal. Ada urutan yang berantakan. Ada miskomunikasi. Pada momen seperti itu, kualitas sebuah tim bukan diukur dari apakah mereka bisa membuat semuanya sempurna, melainkan dari cara mereka bereaksi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Apakah kita sibuk mencari siapa yang salah, atau mulai bertanya: “Sekarang apa yang bisa kita lakukan?”
Setelah sebuah kegiatan selesai, yang tersisa biasanya bukan hanya foto acaranya. Ada keterampilan kecil yang ikut terbawa: lebih berani bicara, lebih rapi membuat catatan, lebih peka terhadap waktu, lebih sabar mendengar orang lain, atau lebih tahu bagian mana dari diri kita yang masih perlu dibenahi.
Jadi kalau suatu hari kamu mendapat kesempatan menjadi panitia untuk pertama kali, jangan khawatir kalau belum tahu semuanya. Tidak ada yang benar-benar tahu semuanya di awal. Datang, kerjakan bagianmu, beri kabar, bertanya kalau bingung, dan belajar dari apa yang terjadi.
Kadang tanggung jawab memang tidak datang dalam bentuk tugas besar. Ia datang sebagai hal-hal kecil yang harus tetap dikerjakan meski tidak ada yang sedang melihat.



